KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Puji syukur kehadirat Allah SWT
karena atas rahmat-Nya dan rido-Nyalah penulisan laporan penelitian dengan
judul “Laporan Hasil Kuliah Lapangan Pengenalan Alat-alat Klimatologi” ini
dapat diselesaikan.
Bermacam halangan terkadang
menghambat pembuatan laporan yang mungkin masih jauh dari sebutan laporan
penelitian. Akan tetapi, berkat dukungan dari berbagai pihak, akhirnya laporan
penelitian ini terselesaikan.
Untuk itu, penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada berbagai pihak yang membantu penulisan laporan penelitian ini.
Khususnya saya ingin memberikan rasa berterimakasih kepada Prof. Dr. Ir. Hj.
Baharuddin Mappangaja, M.Sc sebagai dosen klimatologi saya yang mengajar dan
mengadakan praktikum lapangan pengenalan alat-alat klimatologi kepada saya
sebagai mahasiswa fakultas kehutanan.
Sesungguhnya
yang benar hanya dari Allah SWT semata dan yang salah adalah kelemahan penulis.
Wabillahi Taufiq Wal Hidayah.
Makassar, 28 Oktober
2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI . ......................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang...........................................................................................1
1.2
Tujuan praktikum........................................................................................1
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Waktu dan Tempat..….…………………….……………………………..2
2.2 Prosedur Praktikum …..………………….....……………………………2
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan................................................................................................3
A.
Camble Stokes........................................................................................................3
B.
Aktinigraf...............................................................................................................4
C.
Penakar Hujan Otomatis Hellman.........................................................................5
D.
Gun Bellani............................................................................................................6
E.
Cup Counter Anemometer.....................................................................................7
F.
Sangkar Alat..........................................................................................................8
G.
Penakar Hujan OBS.............................................................................................13
H.
Tower ..................................................................................................................14
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unsur – unsur klimatologi dan cuaca
seperti suhu dan kelembapan udara, curah hujan, intensitas penyinaran matahari,
kecepatan dan arah angin serta unsur lainnya merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan perkiraan
cuaca dan iklim dan lainnya. Pengukuran besaran-besaran tersebut lazim
dilakukan di stasiun-stasiun klimatologi. Cara dan alat ukur di stasiun
meteorologi dan klimatologi di Indonesia yang umumnya masih secara manual,
hasil kelengkapan dan keakuratan datanya sangat tergantung kepada manusia yang
mencatatnya. Beberapa alat pencatat otomatis buatan pabrik sudah digunakan,
tetapi harganya relatif masih mahal.
Dalam pengukuran dan pencatatan
tentang iklim/cuaca, ada hal yang perlu diperhatikan dengan seksama, antara
lain; curah hujan (jumlah dan intensitas hujan), evaporasi (permukaan tanah dan
tanaman), radiasi matahari (lama penyinaran dan intensitas penyinaran
matahari), kelembapan suhu atau temperatur (udara dan tanah), dan angin (arah
dan kecepatan angin). Untuk hal tersebut dalam stasiun pengamatan pengukuran
iklim/cuaca harus memerlukan perlengkapan seperti; shelter (Kotak Stevenson),
termometer suhu maksimum dan minimum, termometer bola basah dan bola kering,
termohigrograf, penakar hujan (ombrometer), anemometer, evaporimeter,
solarimeter, shunshine duration record and thermometer tanah, sangkar alat,
aktinograf, campbell stokes, aktinograf,
penangkar hujan otomatis hellman, gun bellani, cup counter anemometer, sangkar
alat, penangkar hujan OBS, tower
1.2 Tujuan
Praktikum
Berikut ini
adalah tujuan dari praktikum sebagai berikut :
1. Mengetahui nama alat-alat
klimatologi
2. Mengetahui fungsi alat-alat
klimatologi
3. Karakteristik alat tersebut
4. Mengetahui cara kerja dari
alat-alat tersebut
5. Mengetahui kegunaan data yang
dihasilkan alat tersebut
BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mengenai alat-alat pengukur cuaca ini dilakukan di stasiun Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maros, Sulawesi Selatan. Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 6 Oktober 2013, dimulai pada pukul
10.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WITA.
2.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yakni :
1. Campbell Stokes
2. Aktinograf
3. Penangkar Hujan Otomatis Hellman
4. Gun Bellani
5. Cup Counter Anemometer
6. Sangkar Alat
7. Penangkar Hujan OBS
8. Tower
9. Alat Tulis
10. Kamera
2.3 Prosedur Praktikum
Adapun prosedur dalam melakukan
praktikum antara lain :
1. Memperhatikan alat-alat pengukur cuaca
2. Mencatat cara kerja dari masing-masing alat ukur cuaca
3. Mengambil gambar masing-masing alat pengukur cuaca
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan
A. Campbell Stokes
1. Fungsi Campbell Stokes :
Untuk mengukur dan mencatat lama penyinaran matahari
2. Cara Kerja Campbell Stokes :
Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan memusatkan (memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga focus sinar matahari tersebut tepat mengenai kertas pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan jejak pada kertas pias ini. Dipergunakannya bola gelas dimaksudkan agar alat tersebut dapat dipergunakan untuk memfokuskan sinar matahari secara terus menerus tanpa terpengaruh oleh posisi matahari yang senantiasa berubah-ubah seiringnya waktu.
Kertas pias ditempatkan pada kerangka cekung yang konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai kertas pias. Jika matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini maka akan diperoleh jejak kertas pias terbakar yang tak terputus. Akan tetapi, jika matahari bersinar cerah tidak teratur karena terhalang dengan awan maka kertas pias pun terbakar terputus-putus.
Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari. Perlu diperhatikan 1 kotak pada kertas pias menunjukkan bahwa lamanya peninyinaran matarahari yang cerah selama 1 jam.
3. Bagian – bagian Campbell Stokes :
a) Bola gelas ( Bola kaca pejal )
b) Lensa bola untuk memusatkan sinar matahari
c) Tempat pias dan kertas pias
d) Papan skala untuk membaca pias (Sun shine scale).
e) Busur Meridian utk mengatur sesuai Lintang Bumi
f) Tiga buah skrup penyangga untuk memperoleh posisi horisontal dan arah utara yang sebenarnya
g) Skrup pengatur kedataran ( water pass )
h) Kaki Penyangga
B. Aktinograf
1. Fungsi Aktinograf :
Untuk mengatur radiasi sinar matahari. Hasilnya dituliskan dalam satuan W/m2.
2. Cara kerja Aktinograf :
Berperekam atau otomatis mengukur setiap saat pada siang hari radiasi surya yang jatuh ke alat. Sensor atau yang peka bila kena sinar surya terdiri atas bimetal (dwilogam) berwarna hitam mudah menyerap radiasi surya. Panas karena radiasi yang diserap ini membuat bimetal melengkung.
Besarnya lengkungan sebanding radiasi yang diterima sensor. Lengkungan ini disampaikan secara mekanis ke jarum penulis diatas pias yang berputar menurut waktu. Hasil rekaman sehari ini berbentuk grafik. Luas grafik/integral dari grafik sebanding dengan jumlah radiasi surya yang ditangkap oleh sensor selama sehari.
3. Bagian – bagian Aktinograf :
a) Kertas Grafik
b) Sensor berupa bimetal (dwilogam)
c) Jarum penulis
d) Pias
C. Penakar Hujan Otomatis Hellman
1. Fungsi Penakar Hujan Otomatis :
Untuk Mengukur Curah Hujan
2. Cara Kerja Penakar Hujan Otomatis :
Penakar hujan jenis Hellman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat sendiri. Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong kemudian terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta tangkainya terangkat (naik ke atas ). Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang gerakannya selalu mengikuti tangkai pelampung.
Gerakan pena dicatat pada pias yang ditakkan/digulung pada silinder jam yang dapat diputar dengan bantuan tenaga per jam. Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mecapai tempat teratas pada pias. Setelah air mencapai atau melewati selang gelas, air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertical. Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dihitung/ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertical yang terdapat pada pias.
3. Bagian - bagian Penakar Hujan Otomatis Hellman :
a. Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alatdengan luas penampang 100 cm2
b. Bak tempat penampungan air hujan
c. Kran
d. Kaki yang berbentuk tabung silinder
e. Gelas ukur penakar hujan
D. Gun Bellani
1. Fungsi Gun Bellani :
Mengukur radiasi sinar matahari (gCal/cm2/hari)
2. Cara Kerja Gun Bellani :
Prinsip alat adalah menangkap radiasi pada benda berbentuk bola sensor. Panas yang timbul akan menguapkan zat cair dalam bola hitam. Ruang uap zat cair berhubungan dengan tabung kondensasi. Uap zat cair yang timbul akan dikondensasi dalam tabung berbentuk buret yang berskala. Banyaknya air kondensasi sebanding dengan radiasi surya diterima oleh sensor dalam sehari. Pengukuran dilakukan sekali dalam sehari. Pengukuran dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari dibandingkan dengan alat yang pertama hasilnya lebih kasar.
3. Bagian- bagian Gun Bellani :
a) Bola bulat hitam berisikan air dan dihubungkan dengan tabung buret
b) Silinder pelindung
c) Skala pengamatan
E. Cup Counter Anemometer
1. Fungsi Cup Counter Anemometer :
Mengukur rata-rata kecepatan angin (km/jam)
2. Cara Kerja Cup Counter Anemometer :
Angin yang bertiup akan membuat anemometer berputar dan kecepatan angin akan ditunjukkan oleh spidometer yang tertera pada alat. Anemometer berupa baling-baling yang dihubungkan dengan dynamo penghasil arus listrik. Apabila angin bertiup baling-baling akan berputar akan memutar dynamo dan akan diperoleh arus listrik. Arus listrik ini kemudian dikonversikan ke satuan kecepatan, knot atau m/det. Alat penunjuk arah angin berupa bendera yang kaku ( lempengan ) yang dihubungkan dengan tahanan listrik geser (tahanan geser).
Besarnya tahanan akan berubah-ubah seiring dengan perubahan bendera arah penunjuk angin. Arus listrik yang tetap dialirkan melalui tahanan geser tersebut, setelah melalui tahanan tersebut otomatis besarnya arus listrik akan berubah dan dikonversikan ke dejarat arah angin/mata angin.
3. Bagian-bagian Cup Counter Anemometer :
a) Tiga buah mangkok sebagai baling baling yang dibatasi sudut 120 derajat
b) Counter
c) Tiang
F. Sangkar Alat
1. Fungsi Sangkar Alat :
a) Untuk menempatkan alat yang tidak terkena matahari secara langsung. Melindungi alat - alat yang ada didalamnya;
b) Berperan dalam keseragaman hasil.
2. Komponen - komponen didalam sangkar ini berupa :
a) thermometer bola kering
b) thermometer bola basah
c) thermometer maksimum
d) thermometer minimum
e) piche evaporimeter
Pada bagian dalam sangkar ini terdapat alat yang dipergunakan untuk mengetahuhi keadaan perubahan suhu udara.
sangkar bagian dalam
peralatan yang ada di dalam sangkar
Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa psychrometer terdiri dari dua thermometer, yaitu :
1) Temometer bola kering
2) Termometer bola basah.
Termometer bola kering dan termometer bola basah terdiri atas tiga bagian utama, yakni :
a) Air raksa
b) Bola thermometer
c) Skala suhu.
Fungsi dari thermometer bola kering dan thermometer bola basah antara lain sebagai berikut :
1) Termometer bola kering digunakan untuk mengukur perubahan suhu udara.
2) Termometer bola basah digunakan bersama bola kering untuk mengukur kelembaban udara(RH) dan titik embun
Cara Kerja thermometer bola kering dan thermometer bola basah, yakni apabila terjadi kenaikan suhu udara, kalor yang merambat dalam bola termometer akan menyebabkan air raksa memuai. Pemuaian air raksa akan mengakibatkan pertambahan volume air raksa yang ada.
Pemuaian air raksa tersebut menyebabkan naiknya permukaan kolom raksa ke skala yang lebih besar. Pemukaan raksa akan bergeser ke skala yang lebih kecil bila terjadi penurunan suhu.
3) Termometer maksimum
termometer maksimum
Temometer maksimum berfungsi untuk mengukur suhu maximum yg terjadi pada periode 24 jam.
Thermometer maksimum ini terdiri atas empat bagian utama, yaitu :
a) Bola thermometer
b) Air raksa
c) Skala suhu
d) Celah sempit
Cara kerja dari thermometer maksimum ini, yakni apabila terjadi kenaikan suhu udara, kalor yang merambat dalam bola termometer akan menyebabkan air raksa memuai. Pemuaian air raksa akan mengakibatkan pertambahan volume air raksa yang ada dan menyebabkan naiknya permukaan kolom raksa ke skala yang lebih besar.
Saat terjadi penurunan suhu, air raksa yang terdapat pada bola termometer akan menyusut. Akan tetapi air raksa yang telah masuk ke kolom raksa pada skala tidak bisa kembali ke bola raksa karena terhambat oleh adanya celah sempit. Sehingga dapat diketahui suhu tertinggi yang telah terjadi.
4) Termometer Minimum
thermometer minimum
Thermometer minimum ini berfungsi untuk mengukur perubahan suhu minimum yang terjadi pada periode 24 jam.
Temometer minimum ini terdiri dari empat bagian utama, empat bagian itu antar lain sebagai berikut.
a) Bola termometer
b) Alkohol
c) Skala suhu
d) Indeks.
Cara kerja dari termometer minimum ini adalah pada saat terjadi penurunan suhu, alkohol dalam bola termometer akan menyusut. Penyusutan tersebut menyebabkan penurunan kolom alkohol pada skala dan menggeser indeks yang terdapat pada kolom alkohol ke skala yang lebih kecil.
Sedangkan pada saat terjadi kenaikan suhu, alkohol dalam bola termometer akan memuai. Pemuaian tersebut akan menaikkan permukaan alkohol dalam kolom alkohol akan tetapi kenaikan tersebut tidak mempengaruhi posisi indeks (indeks tidak bergerak ). Sehingga dapat diketahui suhu terendah yang terjadi.
5) Evaporimeter jenis piche
Keterangan gambar antara lain sebagai berikut.
a) Seperti panci penguapan terbuka, alat ini digunakan sebagai pengukur penguapan secara relatif. Maksudnya, alat ini tidak dapat mengukur secara langsung evaporasi ataupun evapotranspirasi yang sesungguhnya terjadi.
b) Merepresentasikan penguapan yang terjadi sealin dari badan-badan air, seperti dari tanah, batang kayu, batu dll
c) Hasil pembacaannya sangat tergantung terhadap angin, iklim dan debu. Pada prinsipnya Piche evaporimeter terdiri dari:
d) Pipa gelas yang panjangnya + 20 Cm dan garis tengahnya + 1,5 cm. Pada pipa gelas terdapat skala, yang menyatakan volume air dalam cm3 atau persepuluhnya. Ujung bawah pipa gelas terbuka dan ujung atasnya tertutup dan dilenghkapi dengan tempat menggantungkan alat tersebut.
e) Piringan kertas filter berbentuk bulat. Kertas ini berpori-pori banyak sehingga mudah menyerap air. Kertas filter dipasang pada mulut pipa terbuka.
f) Penjepit logam, yang berbentuk lengkungan seperti lembaran per. Per ujung yang melekat disekeliling pipa dan ujung lainnya berbentuk sama dengan diameter pipa.
piche
Evaporimeter jenis picha ini mempunyai empat bagian utama, yaitu :
1 Pipa kaca berskala ;
2 Kertas filter ;
3 Penjepit kertas filter ; dan
4 Air.
Cara kerja dari evaporimeter ini, yakni setelah pengisian dan alat digantung (terpasang terbalik), air meresap kedalam filter. Penguapan terjadi pada permukaan kertas filter yang basah pada kedua sisinya.
Penguapan yang terjadi secara terus menerus akan mengurangi volume air yang ada dalam pipa kaca berskala, sehingga permukaan air pada pipa kaca berskala akan berkurang.
G. Penakar Hujan OBS
1. Fungsi Penakar Hujan OBS :
Untuk mengukur Curah Hujan
2. Cara Kerja Penakar Hujan OBS :
Cara kerja dari observatorium ini adalah penakar hujan yang ditempatkan disetiap kecamatan dan memiliki diameter 100 cm, jadi dibawa kemana-mana dan menentukannya itu adalah mengukur curah hujan dengan ketinggian tetap.
Ketinggian pada corong tersebut yaitu 120 cm untuk mengukur udara permukaan. Ketinggian tersebut adalah ketinggian yang dianggap layak untuk makhluk hidup.Setiap pukul 07.00 dilakukan pengukuran angin dengan menggunakan gelas ukur berskala, kemudian air yang tertampung diukur dengan membuka krannya lalu kita baca volumenya (dalam satuan mm).
3. Bagian-bagian Penakar Hujan OBS :
a. Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alatdengan luas penampang 100 cm2
b. Bak tempat penampungan air hujan
c. Kran
d. Kaki yang berbentuk tabung silinder
e. Gelas ukur penakar hujan
H. Tower
Tower adalah alat yang berfungsi untuk mengamati unsure-unsur mikro pada daerah setempat yang terbagi menjadi 4 ketinggian yaitu 4 meter, 7 meter, dan 10 meter (masih ada unsur cuaca pada ketinggian ini).
Bagian-bagiannya antara lain :
a) Winpen atau bola untuk menunjukkan arah angin
b) Jaring yang menentukan kecepatan angin
c) Anemometer
d) Thermometer
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari peraktikum kali ini didapat
kesimpulan sebagai berikut :
Kita merasakan apakah udara itu
panas atau dingin, angin itu bertiup atau tidak, hujan atau tidak dan
sebagainya. Kita melihat berwarna atau cerah, hujan turun daun-daunan ditiup
angin. Semua komponen-komponen cuaca tersebut adalah dirasakan dan diketahui
sejak dahulu kala. Akan tetapi, apa yang dirasakan dan dilihat oleh
masing-masing orang sangatlah berlainan.
Seseorang merasakan keadaan
udara pada suatu saat adalah panas sekali. Akan tetapi, orang lain hanya
merasakan panas biasa saja. Jadi apa yang dirasakan dan dilihat oleh indra
adalah sangat subjektif. Untuk menghilangkan subjektivitas ini kemudian
digunakan alat-alat pengamatan (instrument).
Alat-alat yang digunakan untuk
mengamati perubahan alat atau alat pengukur cuaca yang digunakan antara lain :
Campble Stokes, Aktinograf, Penakar Hujan Otomatis Hellman, Gun Bellani, Cup
Counter Anemometer, Sangkar Alat, Penakar Hujan OBS, dan Tower. Alat-alat ini berfungsi
dan cara kerja yang berbeda-beda sesuai dengan kriteria dari masing-masing
alat.
Dengan demikian kita dapat
mengetahui bahwa alat klimatologi membantu dalam pengetahuan keadaan cuaca,
alat klimatologi merupakan bagian dari pembelajaran situasi iklim, semakin
canggih alat klimatologi maka semakin akurat data yang di dapat, pengumpulan
data dari alat klimatologi berlangsung lama, dan untuk menguji suatu objek
iklim misalnya harus secara berangsur-angsur.
4.2 Saran
Sebagai mahasiswa fakultas
kehutanan yang baik sebaiknya diberi kesempatan untuk membaca datanya dan
mengolah datanya secara langsung pada saat praktikum dilapangan agar bisa lebih
mendapatkan pengalaman yang lebih pada saat praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
fpk.unair.ac.id
pada tanggal 28 Oktober 2013
www.scribd.com/doc/97281552/Campbell-Stokes-of-Jurnal
pada tanggal 28 Oktober 2013
ml.scribd.com/doc/97281718/sangkar-klimatologi
pada tanggal 28 Oktober 2013
http://www.docstoc.com/docs/84624412/LAPORAN-RESMI-PRAKTIKUM-ARUS pada tanggal 28 Oktober 2013
catetankuliah.blogspot.com/2009/06/alat-alat-klimatologi.html pada tanggal 28 Oktober 2013
http://bmkgstaklimsampali.blogspot.com/p/alat-meteorologi-klimatologi.html pada tanggal 28 Oktober 2013
http://catetankuliah.blogspot.com/2009/06/alat-alat-klimatologi.html pada tanggal 28 Oktober 2013
http://www.klimatologibanjarbaru.com/artikel/2008/12/alat-alat-klimatologi-konvensional/ pada tanggal 28 Oktober 2013
Komentar